Kota Bandung
A. UMUM
Pada tahun 1990 kota Bandung menjadi salah satu kota paling aman
di dunia berdasarkan survei majalah Time.
Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, karena pada
jaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan
bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga
dengan Parijs van Java karena keindahannya. Selain itu kota Bandung juga
dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang
banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga
menjadi kota wisata kuliner. Dan pada tahun 2007, British
Council menjadikan kota
Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia
Timur. Saat ini kota
Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan.
B. Sejarah
Kata "Bandung" berasal dari kata bendung
atau bendungan karena terbendungnya sungai
Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan
oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa nama "Bandung"
diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat
berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati
Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci
Tarum dalam mencari tempat
kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.
Berdasarkan
filosofi Sunda, kata "Bandung" berasal dari kalimat "Nga-Bandung-an
Banda Indung", yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung
nilai ajaran Sunda. Nga-"Bandung"-an artinya menyaksikan atau
bersaksi. "Banda" adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup
yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati.
"Indung" adalah Bumi, disebut juga sebagai "Ibu Pertiwi"
tempat "Banda" berada. Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup
sebagai "Banda". Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah
"Banda Indung", yaitu Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia
dan segala isi perut bumi. Langit yang berada diluar atmosfir adalah tempat
yang menyaksikan, "Nu Nga-Bandung-an". Yang disebut sebagai Wasa atau
Sanghyang Wisesa, yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk
Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala
makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang
keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.
Kota
Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini
menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga
atau danau. Legenda Sangkuriang merupakan legenda yang menceritakan bagaimana
terbentuknya danau Bandung, dan bagaimana terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga
meninggalkan cekungan seperti sekarang ini. Air dari danau Bandung menurut
legenda tersebut kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sangkyang Tikoro.
Daerah
terakhir sisa-sisa danau Bandung yang menjadi kering adalah Situ Aksan, yang
pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat berpariwisata, tetapi saat ini
sudah menjadi daerah perumahan untuk pemukiman.
Kota
Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25
September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk
kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota
Bandung.
Kota
Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur
Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan
bertambah menjadi 8.000 ha di tahun 1949, sampai terakhir bertambah menjadi luas wilayah saat
ini.
Pada masa perang
kemerdekaan, pada 24
Maret 1946, sebagian kota ini di bakar oleh para pejuang
kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini
dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh
sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.
Pada tanggal 18
April 1955 di Gedung
Merdeka yang dahulu bernama
"Concordia" (Jl. Asia Afrika, sekarang), berseberangan dengan Hotel Savoy Homann, diadakan untuk pertama kalinya Konferensi Asia-Afrika yang kemudian kembali KTT Asia-Afrika 2005 diadakan di kota ini pada 19
April-24
April 2005.
C. Geografi
Kota
Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga bentuk morfologi wilayahnya bagaikan
sebuah mangkok raksasa, secara geografis kota ini terletak di tengah-tengah
provinsi Jawa Barat, serta berada pada ketinggian ±768 m di atas permukaan
laut, dengan titik tertinggi di berada di sebelah utara dengan ketinggian 1.050
meter di atas permukaan laut dan sebelah selatan merupakan kawasan rendah
dengan ketinggian 675 meter di atas permukaan laut.
Kota
Bandung dialiri dua sungai utama, yaitu Sungai Cikapundung dan Sungai
Citarum beserta anak-anak
sungainya yang pada umumnya mengalir ke arah selatan dan bertemu di Sungai
Citarum. Dengan kondisi yang
demikian, Bandung selatan sangat rentan terhadap masalah banjir terutama pada musim
hujan.
Keadaan
geologis dan tanah yang ada di kota Bandung dan sekitarnya terbentuk pada zaman
kwartier dan mempunyai lapisan tanah alluvial hasil letusan Gunung Tangkuban Parahu. Jenis material di bagian utara umumnya merupakan
jenis andosol begitu juga pada kawasan dibagian tengah dan barat, sedangkan
kawasan dibagian selatan serta timur terdiri atas sebaran jenis alluvial kelabu
dengan bahan endapan tanah liat.
Semetara
iklim kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab dan sejuk,
dengan suhu rata-rata 23.5 °C, curah hujan rata-rata 200.4 mm dan jumlah
hari hujan rata-rata 21.3 hari per bulan.
D. Kependudukan
Kota
Bandung merupakan kota terpadat di Jawa Barat, di mana penduduknya didominasi
oleh etnis Sunda,
sedangkan etnis Jawa merupakan penduduk minoritas terbesar di kota ini
dibandingkan etnis lainnya.
E. Pemerintahan
Dalam
administrasi pemerintah
daerah, kota Bandung
dipimpin oleh wali kota.
Sejak 2008, penduduk kota ini langsung memilih wali kota beserta
wakilnya dalam pilkada, sedangkan sebelumnya dipilih oleh anggota DPRD
kotanya.Untuk perwakilan kota bandung Sesuai konstitusi yang berlaku DPRD kota
Bandung merupakan representasi dari perwakilan rakyat, pada Pemilu Legislatif
2004 sebelumnya anggota DPRD kota Bandung berjumlah 45 orang. Sesuai dengan
perkembangan dan pertambahan penduduk maka pada Pemilu Legislatif 2009 anggota
DPRD kota Bandung bertambah menjadi 50 orang, yang kemudian tersusun atas
perwakilan delapan partai, dan terdiri atas 41 lelaki dan 9 perempuan.
F. Pendidikan
Kota
Bandung merupakan salah satu kota pendidikan, dan Soekarno, presiden pertama Indonesia, pernah menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda pada masa pergantian abad ke-20. Kota bandung juga
memiliki beberapa universitas besar di Indonesia , seperti Universitas
Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonsia (UPI) dan sebagainya.
G. Perhubungan
Sampai
pada tahun 2004, kondisi transportasi jalan di kota Bandung masih buruk dengan tingginya
tingkat kemacetan serta ruas jalan yang tidak memadai, termasuk masalah parkir
dan tingginya polusi udara.[21] Permasalahan ini muncul karena beberapa faktor
diantaranya pengelolaan transportasi oleh pemerintah setempat yang tidak
maksimal seperti rendahnya koordinasi antara instansi yang terkait, ketidakjelasan wewenang setiap
instansi, dan kurangnya sumber daya manusia, serta ditambah tidak lengkapnya
peraturan pendukung.
H. Infrastruktur
Sampai
tahun 2000 panjang jalan di kota Bandung secara keseluruhan baru
mencapai 4.9 % dari total luas wilayahnya dengan posisi idealnya mesti
berada pada kisaran 15-20 %. Pembangunan jalan baru, peningkatan kapasitas
jalan dan penataan kawasan mesti menjadi perhatian bagi pemerintah kota untuk
menjadikan kota ini menjadi kota terkemuka. Pada 25 Juni 2005, jembatan
Pasupati resmi dibuka, untuk
mengurangi kemacetan di pusat kota, dan menjadi landmark baru bagi kota
ini. Jembatan dengan panjangnya 2.8 km ini dibangun pada kawasan lembah serta
melintasi Ci Kapundung
dan dapat menghubungkan poros barat ke timur di wilayah utara kota Bandung.
Kota Bandung berjarak
sekitar 180 km dari Jakarta, saat ini dapat dicapai melalui jalan Tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang)
dengan waktu tempuh antara 1.5 jam sampai dengan 2 jam. Jalan tol ini merupakan
pengembangan dari jalan Tol Padaleunyi (Padalarang-Cileunyi), yang sudah dibangun sebelumnya.
I.
Perekonomian
Pada
awalnya kota Bandung sekitarnya secara tradisional merupakan kawasan pertanian, namun seiring dengan laju urbanisasi menjadikan
lahan pertanian menjadi kawasan perumahan serta kemudian berkembang menjadi
kawasan industri dan bisnis, sesuai dengan transformasi ekonomi kota umumnya.
Sektor perdagangan dan jasa saat ini memainkan peranan penting akan pertumbuhan
ekonomi kota ini disamping terus berkembangnya sektor industri. Berdasarkan Survei
Sosial Ekonomi Daerah
(Suseda) 2006, 35.92 % dari
total angkatan kerja penduduk kota ini terserap pada sektor perdagangan,
28.16 % pada sektor jasa dan 15.92 % pada sektor industri. Sedangkan
sektor pertanian hanya menyerap 0.82 %, sementara sisa 19.18 % pada
sektor angkutan, bangunan, keuangan dan lainnnya.
Pada triwulan I 2010,
kota Bandung dan sebagian besar kota lain di Jawa Barat mengalami kenaikan laju
inflasi tahunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sebagai faktor
pendorong inflasi dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter, yang berupa
interaksi permintaan-penawaran serta ekspektasi inflasi masyarakat. Walaupun
secara keseluruhan laju inflasi pada kota Bandung masih relatif terkendali. Hal
ini terutama disebabkan oleh deflasi pada kelompok sandang, yaitu penurunan
harga emas perhiasan. Sebaliknya, inflasi Kota Bandung mengalami tekanan yang
berasal dari kelompok transportasi, yang dipicu oleh kenaikan harga BBM non
subsidi yang dipengaruhi oleh harga minyak bumi di pasar internasional.
Sementara
itu yang menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Bandung masih didominasi dari penerimaan
hasil pajak daerah dan retribusi daerah, sedangkan dari hasil perusahaan milik
daerah atau hasil pengelolaan kekayaan daerah masih belum sesuai dengan
realisasi.
J.
Pariwisata dan Budaya
Sejak
dibukanya Jalan Tol Cipularang, kota Bandung telah menjadi tujuan utama dalam
menikmati liburan akhir pekan terutama dari masyarakat yang berasal dari Jakarta sekitarnya. Selain menjadi kota wisata belanja, kota
Bandung juga dikenal dengan sejumlah besar bangunan lama berarsitektur
peninggalan Belanda, diantaranya Gedung
Sate sekarang berfungsi
sebagai kantor pemerintah provinsi Jawa Barat, Gedung
Pakuan yang sekarang
menjadi tempat tinggal resmi gubernur provinsi Jawa Barat, Gedung
Dwi Warna atau Indische
Pensioenfonds sekarang digunakan oleh Kementerian Keuangan Republik
Indonesia untuk Kantor Wilayah
XII Ditjen Pembendaharaan Bandung, Villa
Isola sekarang digunakan Universitas Pendidikan Indonesia, Stasiun
Hall atau Stasiun
Bandung dan Gedung
Kantor Pos Besar Kota Bandung.
Kota
Bandung juga memiliki beberapa ruang publik seni seperti museum, gedung
pertunjukan dan galeri diantaranya Gedung
Merdeka, tempat
berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika pada tahun 1955, Museum
Sri Baduga, yang didirikan pada
tahun 1974 dengan menggunakan bangunan lama bekas Kawedanan
Tegallega, Museum Geologi Bandung, Museum Wangsit Mandala Siliwangi, Museum Barli, Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Gedung
Indonesia Menggugat dahulunya menjadi
tempat Ir.
Soekarno menyampaikan
pledoinya yang fenomenal (Indonesia Menggugat) pada masa penjajahan Belanda, Taman
Budaya Jawa Barat (TBJB) dan Rumentang Siang.
Kota
ini memiliki beberapa kawasan yang menjadi taman kota, selain berfungsi sebagai
paru-paru kota juga menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat di kota ini.
Kebun Binatang Bandung merupakan salah satu kawasan wisata yang sangat
diminati oleh masyarakat terutama pada saat hari minggu maupun libur sekolah, kebun
binatang ini diresmikan pada
tahun 1933 oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda dan sekarang dikelola oleh Yayasan Margasatwa
Tamansari. Selain itu beberapa kawasan wisata lain termasuk pusat perbelanjaan
maupun factory outlet juga tersebar di kota ini diantaranya, di kawasan Jalan
Braga, kawasan Cihampelas,
Cibaduyut dengan pengrajin sepatunya dan Cigondewah dengan pedagang tekstilnya.
Puluhan pusat perbelanjaan sudah tersebar di kota Bandung, beberapa di antaranya
Istana Plaza Bandung, Bandung Indah Plaza, Paris Van Java Mall, Cihampelas
Walk, Bandung
Supermal, Bandung Trade Center, Plaza Parahyangan, Balubur Town Square, Dago Plaza dan Metro Trade Centre. Terdapat juga pusat rekreasi modern dengan berbagai
wahana seperti Trans Studio Resort Bandung yang terletak pada lokasi yang sama dengan Bandung Super Mall.
Sementara
beberapa kawasan pasar tradisional yang cukup terkenal di kota ini diantaranya
Pasar Baru, Pasar Gedebage dan Pasar Andir. Potensi kuliner khususnya tutug oncom, serabi, pepes, dan colenak
juga terus berkembang di kota ini. Selain itu Cireng juga telah menjadi sajian makanan khas Bandung,
sementara Peuyeum
sejenis tapai yang dibuat dari singkong yang difermentasi, secara luas juga dikenal oleh masyarakat di pulau
Jawa.
Kota
Bandung dikenal juga dengan kota yang penuh dengan kenangan sejarah perjuangan
rakyat Indonesia pada umumnya, beberapa monumen telah didirikan dalam
memperingati beberapa peristiwa sejarah tersebut, diantaranya Monumen
Perjuangan Jawa Barat, Monumen Bandung Lautan Api, Monumen
Penjara Banceuy, Monumen Kereta Api dan Taman Makam Pahlawan Cikutra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar