Minggu, 27 November 2011

BILA AKU JATUH CINTA

Ya… aku jatuh cinta". Tanpa 
ragu-ragu kalimat itu keluar dari mulutku. Menampar segala keangkuhan. 
Menenggelamkan segala kesombongan. Menaklukan kepongahan diri sendiri.. 
sahabatku terperangah, tidak menduga aku jatuh cinta. Cinta yang tulus. 
Cinta yang bening. Cinta yang apa adanya. Cinta yang tanpa syarat. Cinta
yang akan memberikan apa yang ada di hidupku demi mendapatkan cintanya.

"Bagaimana bisa engkau mencintainya?
Siapakah yang telah membuat engkau mencintainya?
Apa yang membuat engkau mencintainya?
Ia terus mengejarku dengan pertanyaan yang menunjukkan kebingungannya.
"Kepada yang …..". aku berhenti "Aku selalu jatuh cinta" lanjutku.
"Bukankah dia bukan orang kita. bukankah dia diluar golongan kita?". Ia masih tidak terima.

"saudaraku…
ketika lahir engkau hanya bernama bayi manusia. Tidak yang lainya, lalu
kedua orang tuamu ‘yuhawidaanika’, ‘wa yunasiraanika’,’ wa 
yumajisaanika’. Bersukurlah karena engkau terlahir dari rahim seorang 
muslimah, hingga tidak perlu susah mencari hidayah. Semenjak lahir di 
telingamu telah bergema ‘ayat-ayat Allah’. Ayo nak kita meraih 
‘prosperity’, meraih kesejahteraan, meraih ‘kesuksesan’.
Jangan 
engkau duhai saudaraku mempersulit diri sendiri untuk meraih kesuksesan 
dalam hidupmu dengan membatasi mengambil ilmu syar`i yang wajib dituntut
semua orang muslim.Memandang bahwa pendapat orang lain salah tanpa 
mengujinya terlebih dahulu,tanpa mencari dalil terlebih dahulu,lalu 
meyakininya …” Aku memandangnya. Mencari di wajahnya ‘reaksi’.

"kamu mencintainya, akan setia selalu kepadanya!! sudahkah katamu kau pikirkan.
Kata
itu berbahaya! Kata yang akan menyeret kamu untuk menganggumi apa saja 
yang ada padanya. Dan bisa menjerumuskan dirimu untuk mengikuti 
perintahnya meskipun perintah itu tidak engkau senangi atau bahkan sesat
dan menyesatkan engkau”. Ia masih membantah.

“Saudaraku… aku 
setuju dengan pendapatmu. Bahwa kekaguman atas seseorang telah banyak 
menyesatkan saudara kita yang lain. Terjerumus kepada ketundukan untuk 
mengambil semua pendapat dari orang yang ia kagumi itu, tanpa 
menyaringnya.
Asal perkataaan itu dari orang yang ia jatuh cinta 
kepadanya – secara ke ilmuan – ia langsung ambil dan adobsi menjadi 
bagian dari pendapatnya. Meskipun pendapat itu menyesatkan banyak 
pemikiran orang yang jauh lebih benar dari orang yang ia cintainya itu. 
Lalu menyebarkan pendapat yang salah itu ke tengah masyarakat.”

aku
kira banyak yang bisa menjadi contoh begitu banyak kaum muda muslim 
Indonesia menjadikan mereka itu idola. Mengikuti seluruh pendapatnya 
tanpa mengujinya dengan kritis. Menyebarkan Hermeneutikanya Nasr Hamid 
dalam mengkaji al-qur’an untuk menggantikan metode tafsir salafus sholeh
kita. Yang akhirnya membawa mereka untuk mentekstualkan al-qur’an, 
bahwa al-Qur’an hanyalah ‘Mumtaz tsaqofi’ atau hasil budaya manusia. 
Bahkan salah seorang pengarang dalam - bukunya - sampai berani menyuruh 
orang agar tidak menganggap al-Qur’an itu sakral. sebab al-Qur’an itu 
hanyalah trik yang dibuat orang orang quraisy dengan tujuan agar 
orang-orang Quraisy itu bisa menguasai zajirah Arab”.


“Mereka
yang mencintai habis kepada tokoh yang mereka kagumi kepandaiannya itu.
Dan tidak menyisakan cintanya kepada ulama’-Ulama' salaf dengan segala 
keagungan kepribadian dan kebesaran karya tulisnya. Buta matanya – tidak
lagi ia gunakan untuk melihat bagaimana syahsiah tokohnya itu dibanding
dengan ahklak ulama’ ulama’ salaf dahulu. Sehingga Imam malik, imam 
hanafi, Imam assyafi’I dan imam hambali tidak lagi dipakai. Dan 
dimasukan lemari es lalu dikunci. Sudah mengarkeologi. sudah tidak 
mungkin bisa diterapkan lagi untuk menyelesaikan permasalahan 
kontemporer ummat Islam. Mereka bilang, bahwa ummat Islam akan tetap 
terpuruk bahkan mati, jika tetap berada pada kesadaran masa lalu”

“saudaraku…
mereka itu generasi bingung! Generasi yang sudah kesusahan untuk 
menemukan kebenaran. Kepalanya sudah terkontiminasi dengan filsafat. 
Sehingga apa saja ingin mereka bongkar, termasuk syari’ah yang secara 
nash merupakan kebenaran pun tidak lepas dari pembongkaran mereka. 
Kepala mereka dipenuhi relativisme. Dengar aja mereka bicara... lalu 
hitung berapa kali kalimat relative itu keluar dari mulutnya?"

“Ah..
itukan relative. Tergantung dari sisi mana anda melihat”, “Janganlah 
suka menyalahkan, menghukumi, memfatwakan orang lain sesat dan lain 
sebagainya. Siapa sebenarnya yang sesat si Aatau si B. Bisa jadi yang 
sesat itu si A karena telah menghukumi orang lain dengan nama TUHAN. Apa
betul yang di fatwakan si A adalah apa yang diinginkan TUHAN. Siapa 
yang berhak mengklaim paling tahu apa yang diinginkan oleh TUHAN. 
Jangan-jangan si B lah yang betul dan fatwa si A yang sesat. Hargailah 
kebebasan orang untuk mengekspresikan cara ia mencintai TUHANnya, tidak 
usahlah saling menyesatkan”.

Lihat saudaraku.. betapa semuanya menjadi relative, tidak ada kebenaran yang bisa mereka pegang". Aku mengatur nafas.
berbicara tentang mereka ini terlalu menguras emosi.
sebenarnya
sih aku ingin berlatih untuk mencintai dan membenci, sekedarnya. 
Secukupnya, seperlunya, mencintai dengan cinta yang sederhana.
membenci dengan kebencian yang sederhana.
namun rupanya untuk kelompok bingung ini, emosiku sulit terkontrol nich...!!
setelah kunikmati ekspresi saudara bandelku ini, aku teruskan penjelaskanku!

“kalau
kemudian aku mengatakan bahwa ‘aku mencintai Dia dan selalu akan 
menuruti apa yang diperintahkan dan bahkan aku akan berusaha selalu 
tidak melanggar larangannya . Masak kamu tidak percaya padaku..
bahwa
dalam hatiku ini ada cinta yang begitu menggebu . Insya Allah, 
jelek-jelek begini saudaramu ini, bisalah membedakan mana yang baik, 
mana yang tidak. Aku nih bukan termasuk ‘kelompok bingung’ mereka.. 
yakinlah bahwa kalimatku itu bisa aku pertanggung jawabkan insya Allah, 
duh saudara … percayalah padaku..”

“Aku tidak percaya..”sahut saudaraku

Saudaraku,pernahkah engkau membaca atau mendengar sebuah bait syair ini,

``Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta…
Meskipun ia merasakan manisnya cinta…
Kamu lihat dia menangis di setiap waktu…
Karena takut berpisah atau karena rindu…

Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih…
Namun, bila kekasihnya dekat…
Ia menangis karena takut berpisah…

Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan…
Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba…
Pelakunya memang merasakan kenikmatan…
Namun, sebenarnya…
Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati…

Saudaraku itulah perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam salah satu kitab beliau,
Tapi
saudaraku,percayalah, cintaku padanya tidaklah akan membawa 
kesengsaraan,tidak akan membuat sakit hati dan aku sangat yakin bahwa 
aku tidak salah jatuh cinta.
Dan aku juga yakin ,bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan cintaku.
Bahkan
aku sangat yakin dengan cinta dan kasih sayangnya,dan bahkan aku berani
bersumpah demi jiwaku yang ada di genggamaNya,janji-janji Dia semua 
pasti akan di tepati.

Akhirnya dengan ekspresi wajah yang masih 
menunjukkan kebingungannya,dia Cuma bisa mengangguk-anggukan kepalanya 
.maka saudaraku izinkan aku untuk mengambil jeda walau sejenak untuk 
membuktikan cintaku padaNya,aku akan berusaha melaksanakan perintahNya.
Saudaraku
maafkan aku bila suatu hari nanti aku lama tidak engkau temui,mungkin 
engkau akan bertanya –tanya dalam hatimu,tapi saudaraku ,tidak usah 
engkau cemaskan diri ini,insyallah aku akan baik-baik saja.
Saudaraku
,aku hanya mengharap doa mu semoga aku dapat meraih keridhoan dan 
cintaNYa,dan di sini aku juga akan selalu berdoa untukmu saudaraku 
semoga engkau juga akan seperti aku,mengharap ridho dan cintaNYa.

Setelah semua aku jelaskan akhirnya saudaraku ,engkau faham akan cintaku.
Kepada siapa sebenarnya cinta ini aku tambatkan.ya aku yakin engkau akan mengerti.
Dan
aku yakin engkau juga merasakan cinta yang sama denganku,bukan kah 
begitu saudaraku?.Sehingga aku yakin bahwa aku tidak akan sengsara,dan 
aku tidak akan kecewa dan bahkan tidak akan sakit hati.

Maka saudaraku marilah kita buktikan cinta kita kepada NYa
Ayo kita berlomba-lomba siapa yang paling baik pembuktian cintanya.
Semoga ,aku,engkau,dan kita semua akan di pertemukan di kautsarnya.
Amiin

Wallahu a’lam. Subahanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ila hailla anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.

yang tengah di rundung rindu

KEKUATAN HATI MELEBIHI KEKUATAN PIKIRAN

Banyak orang sangat meyakini bahwa kekuatan pikiran positif dapat membawa manusia meraih kesuksesan dalam mencapai tujuannya. Memang, tidak diragukan lagi, kalau kekuatan pikiran positif ini dan membawa manusia pada kesuksesan dalam meraih tujuannya. Mereka yang dapat mengarahkan pikirannya selalu kearah positif, maka diyakini bahwa hasilnya adalah sesuatu kehidupan yang positif juga.

Meskipun demikian, kita sebagai manusia yang memiliki keyakikan keimanan kepada ALLAH, sebaiknya menyadari bahwa bukan hanya mengandalkan kekuatan otak semata, bukan hanya mengandalkan akal dan kekuatan pikiran semata. Karena sesungguhnya ada kekuatan lain yang lebih dahsyat dari kekuatan otak, akal dan pikiran. Kekuatan ini bukan hanya mengantarkan manusia meraih sukses namun juga mampu mengantarkan manusia pada kemuliaan hidup. Yakni kekuatan hati atau kekuatan hati yang positif, kekuatan hati yang jernih. Kekuatan hati ini memiliki kedahsyatan yang melebihi kekuatan pikiran manusia. Karena hati adalah rajanya, hatilah yang mengatur dan memerintahkan otak, pikiran dan panca indra manusia.

Tuhan melalui berbagai ajaran yang dibawa oleh para Nabi, maupun melalui kitab suci-NYA telah mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa mendengarkan suara hati nuraninya. Mengajarkan manusia untuk dapat memelihara kejernihan hatinya, sehingga sifat-sifat mulia yang tertanam dalam hati dapat memancar kepermukaan. Karena didalam hati manusia sudah tertanam "built in"  percikan sifat-sifat "Illahiah”  dari ALLAH Tuhan Sang Pencipta Kehidupan. Diantara sifat-sifat mulia ALLAH yang tertanam dalam hati manusia adalah sifat kepedulian, kesabaran, kebersamaan, cinta dan kasih sayang, bersyukur, ikhlas, damai, kebijaksanaan, semangat, dan lain sebagainya. Karena itu sesungguhnya kekuatan hati ini sangat "powerfull”  untuk meraih kesuksesan dan kemuliaan dalam segala bidang kehidupan.

Didalam hati tempatnya pusat ketenangan, kedamaian, kesehatan, dan kebahagiaan sejati yang hakiki. Bahkan hati merupakan cerminan dari diri dan hidup manusia secara keseluruhan. Didalam hati terdapat sumber kesehatan fisik, kekuatan mental, kecerdasan emosional, serta penuntun bagi manusia dalam meraih kemajuan spiritualnya. Hati menjadi tempat dimana sifat-sifat mulia dari ALLAH SWT Sang Pencipta Kehidupan bersemayam. Hati adalah tempat dimana semua yang hal yang terindah, hal yang terbaik, termurni, dan tersuci berada didalamnya.

Dengan demikian, kekuatan hati ini sangat "powerfull”  dan sangat dahsyat dalam membawa manusia meraih sukses dan kemuliaan dalam segala bidang kehidupan. Hati yang jernih akan melahirkan pikiran-pikiran yang jernih dan pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan mulia berdasarkan suara hati nurani. Kejernihan hati dapat menjadikan manusia menjadi mampu betindak bijaksana, memiliki semangat positif, cerdas dan berbagai sifat-sifat mulia lainnya. Dengan hati yang jernih, kita dapat berpikir jernih dan menjalani kehidupan dengan lebih produktif, lebih semangat, lebih efisien dan lebih efektif untuk meraih tujuan.

Hati adalah kunci hubungan manusia dengan Tuhannya. Karena Hati adalah tempat bersemayamnya Iman, dengannya kita bisa berkomunikasi dengan sang Khaliq. Hati juga menjadi kunci hubungan dengan sesama manusia. Hubungan yang dilandasi kejernihan hati dapat menjadikan hubungan yang lebih sehat, baik dan konstruktif dengan siapapun. Karena hubungan yang dilandasi kejernihan hati akan mengedepankan kasih sayang, kejujuran, kebersamaan dan saling menghormati. Hubungan dengan manusia akan terasa menyenangkan, menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. Dengan demikian akan semakin banyak orang lain yang akan memberikan dukungan bagi kesuksesan kita.

Dalam meraih kesuksesan sebaiknya jangan hanya mengandalkan kekuatan otak semata. Karena otak atau pikiran merupakan sesuatu yang terbatas dan bersifat sementara. Berusahalah menggunakan kekuatan hati nurani, menggunakan kekuatan kejernihan hati dengan seimbang. Gunakanlah kekuatan hati yang positif, karena dialah sesungguhnya diri sejati Anda. Hatilah tempat sifat mulia AALLAH SWT Sang Pencipta bersemayam didalam diri kita. Dengan senantiasa menggunakan kekuatan hati, mendengarkan suara hati, akan membawa manusia menjalani kehidupan dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Kalau seseorang dapat merasakan kedamaian hati dan kebahagiaan hati, maka akan memiliki hidup yang penuh dengan sukses dan kemuliaan.

Namun, berbagai godaan kehidupan modern seringkali dapat mengotori kejernihan hati. Sikap egoisme, mementingkan hawa nafsu, mengikuti ambisi meraih kekuasaan dengan menghalalkan segala cara dan berbagai emosi-emosi negatif seperti amarah, dendam, benci dan iri hati dapat menjadikan kejernihan hati terbelenggu. Hati yang terbelenggu cahaya kejernihannya tidak dapat memancar kepermukaan. Inilah yang dapat melemahkan kehidupan spiritual umat manusia. Kalau dibiarkan, dapat menjadikan kita semakin sulit mendengarkan bisikan hati dan lebih mempercayai atau mengandalkan kemampuan otak serta produk-produk pikiran atau akal semata. Inilah yang akan melahirkan ketidak seimbangan antara kemampuan nalar dengan hati nurani, sehingga melahirkan berbagai masalah dalam kehidupan.

Jadikanlah hati nurani kita sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupan. Berusahalah menjaga kejernihan hati, agar rahmat dan berkah dari ALLAH senantiasa mengalir dan memberikan yang terindah untuk hati, perasaan dan seluruh diri kita.

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

Sabtu, 19 November 2011

Munajat hati



Malam ini  hujan termangu dalam ketidak pastian tingkahku
Bertanya apa yang akan aku perbuat tuk artikan dunia yang palsu
Terdekap di balik dinginnya suhu hati
Yang menghujam segala penjuru sel dalam diri

Terhenti sejenak fikirku
Mencoba melangkah perlahan menjauh dari semua tentang hal semu
Kian bercerita pada bait tak bernyawa
Tumpahi segala yang ada dalam dada

Tak berani bertanya pada mereka
Tak ingini mereka mengerti sepercik akan pedihnya rasa


Aku yang kian terlena pada sujud panjangku
Seakan lupai segala yang menusuk jantungku
Aku yang kian terhanyut pada lafadz ayat ini
Meleburkan air mata yang tak terkendali

Bermunjat selalu dalam tiap kegundahan
Yakini indah kan menjelang hati yang kian terlemahkan
Aku hanya ingini kedamaian
Dalam tiap denyut nadi yang kan teralirkan

Hujan di bulan Juni




Dalam dekap hangatmu,,
kau rangkul aku bersama kekayaan batinmu

Mengalaun cerita bersama dua pohon mungil
Tertawa dalam kasih yang tak menentu akan akhir dari baitnya
Ingatkah kau , ini bulan juni

Dan gerimis pun jatuh dari pipi merahku
Tiba akhirnya saat kepergianku

58557_148465478520895_100000723308790_281966_6160114_a.jpg.jpegDalam bahasa kalbu kau harap aku tuk kembali
Dalam kerinduan kau ikhlaskanku tuk pergi
Tanpa kau tau akan akhir cerita, , ,
 kau melepasku


Kau biarkan aku tuk nikmati bahagia di balik telaga air mata mu
Hingga aku sadar hanya dirimu yang selalu bertakhta di dalam benakku

Diruang ini ,,
Kala hujan di bulan juni
Aku pergi tinggalkan bagian hati
Bukan , bukan untuk pergi
Bukan ,, bukan untuk berlari
Namun untuk kembali
Kembali temuimu ,,
Kala kau siap tuk tempatkan aku pada kehalaln hatimu