Minggu, 27 November 2011

BILA AKU JATUH CINTA

Ya… aku jatuh cinta". Tanpa 
ragu-ragu kalimat itu keluar dari mulutku. Menampar segala keangkuhan. 
Menenggelamkan segala kesombongan. Menaklukan kepongahan diri sendiri.. 
sahabatku terperangah, tidak menduga aku jatuh cinta. Cinta yang tulus. 
Cinta yang bening. Cinta yang apa adanya. Cinta yang tanpa syarat. Cinta
yang akan memberikan apa yang ada di hidupku demi mendapatkan cintanya.

"Bagaimana bisa engkau mencintainya?
Siapakah yang telah membuat engkau mencintainya?
Apa yang membuat engkau mencintainya?
Ia terus mengejarku dengan pertanyaan yang menunjukkan kebingungannya.
"Kepada yang …..". aku berhenti "Aku selalu jatuh cinta" lanjutku.
"Bukankah dia bukan orang kita. bukankah dia diluar golongan kita?". Ia masih tidak terima.

"saudaraku…
ketika lahir engkau hanya bernama bayi manusia. Tidak yang lainya, lalu
kedua orang tuamu ‘yuhawidaanika’, ‘wa yunasiraanika’,’ wa 
yumajisaanika’. Bersukurlah karena engkau terlahir dari rahim seorang 
muslimah, hingga tidak perlu susah mencari hidayah. Semenjak lahir di 
telingamu telah bergema ‘ayat-ayat Allah’. Ayo nak kita meraih 
‘prosperity’, meraih kesejahteraan, meraih ‘kesuksesan’.
Jangan 
engkau duhai saudaraku mempersulit diri sendiri untuk meraih kesuksesan 
dalam hidupmu dengan membatasi mengambil ilmu syar`i yang wajib dituntut
semua orang muslim.Memandang bahwa pendapat orang lain salah tanpa 
mengujinya terlebih dahulu,tanpa mencari dalil terlebih dahulu,lalu 
meyakininya …” Aku memandangnya. Mencari di wajahnya ‘reaksi’.

"kamu mencintainya, akan setia selalu kepadanya!! sudahkah katamu kau pikirkan.
Kata
itu berbahaya! Kata yang akan menyeret kamu untuk menganggumi apa saja 
yang ada padanya. Dan bisa menjerumuskan dirimu untuk mengikuti 
perintahnya meskipun perintah itu tidak engkau senangi atau bahkan sesat
dan menyesatkan engkau”. Ia masih membantah.

“Saudaraku… aku 
setuju dengan pendapatmu. Bahwa kekaguman atas seseorang telah banyak 
menyesatkan saudara kita yang lain. Terjerumus kepada ketundukan untuk 
mengambil semua pendapat dari orang yang ia kagumi itu, tanpa 
menyaringnya.
Asal perkataaan itu dari orang yang ia jatuh cinta 
kepadanya – secara ke ilmuan – ia langsung ambil dan adobsi menjadi 
bagian dari pendapatnya. Meskipun pendapat itu menyesatkan banyak 
pemikiran orang yang jauh lebih benar dari orang yang ia cintainya itu. 
Lalu menyebarkan pendapat yang salah itu ke tengah masyarakat.”

aku
kira banyak yang bisa menjadi contoh begitu banyak kaum muda muslim 
Indonesia menjadikan mereka itu idola. Mengikuti seluruh pendapatnya 
tanpa mengujinya dengan kritis. Menyebarkan Hermeneutikanya Nasr Hamid 
dalam mengkaji al-qur’an untuk menggantikan metode tafsir salafus sholeh
kita. Yang akhirnya membawa mereka untuk mentekstualkan al-qur’an, 
bahwa al-Qur’an hanyalah ‘Mumtaz tsaqofi’ atau hasil budaya manusia. 
Bahkan salah seorang pengarang dalam - bukunya - sampai berani menyuruh 
orang agar tidak menganggap al-Qur’an itu sakral. sebab al-Qur’an itu 
hanyalah trik yang dibuat orang orang quraisy dengan tujuan agar 
orang-orang Quraisy itu bisa menguasai zajirah Arab”.


“Mereka
yang mencintai habis kepada tokoh yang mereka kagumi kepandaiannya itu.
Dan tidak menyisakan cintanya kepada ulama’-Ulama' salaf dengan segala 
keagungan kepribadian dan kebesaran karya tulisnya. Buta matanya – tidak
lagi ia gunakan untuk melihat bagaimana syahsiah tokohnya itu dibanding
dengan ahklak ulama’ ulama’ salaf dahulu. Sehingga Imam malik, imam 
hanafi, Imam assyafi’I dan imam hambali tidak lagi dipakai. Dan 
dimasukan lemari es lalu dikunci. Sudah mengarkeologi. sudah tidak 
mungkin bisa diterapkan lagi untuk menyelesaikan permasalahan 
kontemporer ummat Islam. Mereka bilang, bahwa ummat Islam akan tetap 
terpuruk bahkan mati, jika tetap berada pada kesadaran masa lalu”

“saudaraku…
mereka itu generasi bingung! Generasi yang sudah kesusahan untuk 
menemukan kebenaran. Kepalanya sudah terkontiminasi dengan filsafat. 
Sehingga apa saja ingin mereka bongkar, termasuk syari’ah yang secara 
nash merupakan kebenaran pun tidak lepas dari pembongkaran mereka. 
Kepala mereka dipenuhi relativisme. Dengar aja mereka bicara... lalu 
hitung berapa kali kalimat relative itu keluar dari mulutnya?"

“Ah..
itukan relative. Tergantung dari sisi mana anda melihat”, “Janganlah 
suka menyalahkan, menghukumi, memfatwakan orang lain sesat dan lain 
sebagainya. Siapa sebenarnya yang sesat si Aatau si B. Bisa jadi yang 
sesat itu si A karena telah menghukumi orang lain dengan nama TUHAN. Apa
betul yang di fatwakan si A adalah apa yang diinginkan TUHAN. Siapa 
yang berhak mengklaim paling tahu apa yang diinginkan oleh TUHAN. 
Jangan-jangan si B lah yang betul dan fatwa si A yang sesat. Hargailah 
kebebasan orang untuk mengekspresikan cara ia mencintai TUHANnya, tidak 
usahlah saling menyesatkan”.

Lihat saudaraku.. betapa semuanya menjadi relative, tidak ada kebenaran yang bisa mereka pegang". Aku mengatur nafas.
berbicara tentang mereka ini terlalu menguras emosi.
sebenarnya
sih aku ingin berlatih untuk mencintai dan membenci, sekedarnya. 
Secukupnya, seperlunya, mencintai dengan cinta yang sederhana.
membenci dengan kebencian yang sederhana.
namun rupanya untuk kelompok bingung ini, emosiku sulit terkontrol nich...!!
setelah kunikmati ekspresi saudara bandelku ini, aku teruskan penjelaskanku!

“kalau
kemudian aku mengatakan bahwa ‘aku mencintai Dia dan selalu akan 
menuruti apa yang diperintahkan dan bahkan aku akan berusaha selalu 
tidak melanggar larangannya . Masak kamu tidak percaya padaku..
bahwa
dalam hatiku ini ada cinta yang begitu menggebu . Insya Allah, 
jelek-jelek begini saudaramu ini, bisalah membedakan mana yang baik, 
mana yang tidak. Aku nih bukan termasuk ‘kelompok bingung’ mereka.. 
yakinlah bahwa kalimatku itu bisa aku pertanggung jawabkan insya Allah, 
duh saudara … percayalah padaku..”

“Aku tidak percaya..”sahut saudaraku

Saudaraku,pernahkah engkau membaca atau mendengar sebuah bait syair ini,

``Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta…
Meskipun ia merasakan manisnya cinta…
Kamu lihat dia menangis di setiap waktu…
Karena takut berpisah atau karena rindu…

Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih…
Namun, bila kekasihnya dekat…
Ia menangis karena takut berpisah…

Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan…
Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba…
Pelakunya memang merasakan kenikmatan…
Namun, sebenarnya…
Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati…

Saudaraku itulah perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam salah satu kitab beliau,
Tapi
saudaraku,percayalah, cintaku padanya tidaklah akan membawa 
kesengsaraan,tidak akan membuat sakit hati dan aku sangat yakin bahwa 
aku tidak salah jatuh cinta.
Dan aku juga yakin ,bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan cintaku.
Bahkan
aku sangat yakin dengan cinta dan kasih sayangnya,dan bahkan aku berani
bersumpah demi jiwaku yang ada di genggamaNya,janji-janji Dia semua 
pasti akan di tepati.

Akhirnya dengan ekspresi wajah yang masih 
menunjukkan kebingungannya,dia Cuma bisa mengangguk-anggukan kepalanya 
.maka saudaraku izinkan aku untuk mengambil jeda walau sejenak untuk 
membuktikan cintaku padaNya,aku akan berusaha melaksanakan perintahNya.
Saudaraku
maafkan aku bila suatu hari nanti aku lama tidak engkau temui,mungkin 
engkau akan bertanya –tanya dalam hatimu,tapi saudaraku ,tidak usah 
engkau cemaskan diri ini,insyallah aku akan baik-baik saja.
Saudaraku
,aku hanya mengharap doa mu semoga aku dapat meraih keridhoan dan 
cintaNYa,dan di sini aku juga akan selalu berdoa untukmu saudaraku 
semoga engkau juga akan seperti aku,mengharap ridho dan cintaNYa.

Setelah semua aku jelaskan akhirnya saudaraku ,engkau faham akan cintaku.
Kepada siapa sebenarnya cinta ini aku tambatkan.ya aku yakin engkau akan mengerti.
Dan
aku yakin engkau juga merasakan cinta yang sama denganku,bukan kah 
begitu saudaraku?.Sehingga aku yakin bahwa aku tidak akan sengsara,dan 
aku tidak akan kecewa dan bahkan tidak akan sakit hati.

Maka saudaraku marilah kita buktikan cinta kita kepada NYa
Ayo kita berlomba-lomba siapa yang paling baik pembuktian cintanya.
Semoga ,aku,engkau,dan kita semua akan di pertemukan di kautsarnya.
Amiin

Wallahu a’lam. Subahanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ila hailla anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.

yang tengah di rundung rindu

KEKUATAN HATI MELEBIHI KEKUATAN PIKIRAN

Banyak orang sangat meyakini bahwa kekuatan pikiran positif dapat membawa manusia meraih kesuksesan dalam mencapai tujuannya. Memang, tidak diragukan lagi, kalau kekuatan pikiran positif ini dan membawa manusia pada kesuksesan dalam meraih tujuannya. Mereka yang dapat mengarahkan pikirannya selalu kearah positif, maka diyakini bahwa hasilnya adalah sesuatu kehidupan yang positif juga.

Meskipun demikian, kita sebagai manusia yang memiliki keyakikan keimanan kepada ALLAH, sebaiknya menyadari bahwa bukan hanya mengandalkan kekuatan otak semata, bukan hanya mengandalkan akal dan kekuatan pikiran semata. Karena sesungguhnya ada kekuatan lain yang lebih dahsyat dari kekuatan otak, akal dan pikiran. Kekuatan ini bukan hanya mengantarkan manusia meraih sukses namun juga mampu mengantarkan manusia pada kemuliaan hidup. Yakni kekuatan hati atau kekuatan hati yang positif, kekuatan hati yang jernih. Kekuatan hati ini memiliki kedahsyatan yang melebihi kekuatan pikiran manusia. Karena hati adalah rajanya, hatilah yang mengatur dan memerintahkan otak, pikiran dan panca indra manusia.

Tuhan melalui berbagai ajaran yang dibawa oleh para Nabi, maupun melalui kitab suci-NYA telah mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa mendengarkan suara hati nuraninya. Mengajarkan manusia untuk dapat memelihara kejernihan hatinya, sehingga sifat-sifat mulia yang tertanam dalam hati dapat memancar kepermukaan. Karena didalam hati manusia sudah tertanam "built in"  percikan sifat-sifat "Illahiah”  dari ALLAH Tuhan Sang Pencipta Kehidupan. Diantara sifat-sifat mulia ALLAH yang tertanam dalam hati manusia adalah sifat kepedulian, kesabaran, kebersamaan, cinta dan kasih sayang, bersyukur, ikhlas, damai, kebijaksanaan, semangat, dan lain sebagainya. Karena itu sesungguhnya kekuatan hati ini sangat "powerfull”  untuk meraih kesuksesan dan kemuliaan dalam segala bidang kehidupan.

Didalam hati tempatnya pusat ketenangan, kedamaian, kesehatan, dan kebahagiaan sejati yang hakiki. Bahkan hati merupakan cerminan dari diri dan hidup manusia secara keseluruhan. Didalam hati terdapat sumber kesehatan fisik, kekuatan mental, kecerdasan emosional, serta penuntun bagi manusia dalam meraih kemajuan spiritualnya. Hati menjadi tempat dimana sifat-sifat mulia dari ALLAH SWT Sang Pencipta Kehidupan bersemayam. Hati adalah tempat dimana semua yang hal yang terindah, hal yang terbaik, termurni, dan tersuci berada didalamnya.

Dengan demikian, kekuatan hati ini sangat "powerfull”  dan sangat dahsyat dalam membawa manusia meraih sukses dan kemuliaan dalam segala bidang kehidupan. Hati yang jernih akan melahirkan pikiran-pikiran yang jernih dan pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan mulia berdasarkan suara hati nurani. Kejernihan hati dapat menjadikan manusia menjadi mampu betindak bijaksana, memiliki semangat positif, cerdas dan berbagai sifat-sifat mulia lainnya. Dengan hati yang jernih, kita dapat berpikir jernih dan menjalani kehidupan dengan lebih produktif, lebih semangat, lebih efisien dan lebih efektif untuk meraih tujuan.

Hati adalah kunci hubungan manusia dengan Tuhannya. Karena Hati adalah tempat bersemayamnya Iman, dengannya kita bisa berkomunikasi dengan sang Khaliq. Hati juga menjadi kunci hubungan dengan sesama manusia. Hubungan yang dilandasi kejernihan hati dapat menjadikan hubungan yang lebih sehat, baik dan konstruktif dengan siapapun. Karena hubungan yang dilandasi kejernihan hati akan mengedepankan kasih sayang, kejujuran, kebersamaan dan saling menghormati. Hubungan dengan manusia akan terasa menyenangkan, menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. Dengan demikian akan semakin banyak orang lain yang akan memberikan dukungan bagi kesuksesan kita.

Dalam meraih kesuksesan sebaiknya jangan hanya mengandalkan kekuatan otak semata. Karena otak atau pikiran merupakan sesuatu yang terbatas dan bersifat sementara. Berusahalah menggunakan kekuatan hati nurani, menggunakan kekuatan kejernihan hati dengan seimbang. Gunakanlah kekuatan hati yang positif, karena dialah sesungguhnya diri sejati Anda. Hatilah tempat sifat mulia AALLAH SWT Sang Pencipta bersemayam didalam diri kita. Dengan senantiasa menggunakan kekuatan hati, mendengarkan suara hati, akan membawa manusia menjalani kehidupan dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Kalau seseorang dapat merasakan kedamaian hati dan kebahagiaan hati, maka akan memiliki hidup yang penuh dengan sukses dan kemuliaan.

Namun, berbagai godaan kehidupan modern seringkali dapat mengotori kejernihan hati. Sikap egoisme, mementingkan hawa nafsu, mengikuti ambisi meraih kekuasaan dengan menghalalkan segala cara dan berbagai emosi-emosi negatif seperti amarah, dendam, benci dan iri hati dapat menjadikan kejernihan hati terbelenggu. Hati yang terbelenggu cahaya kejernihannya tidak dapat memancar kepermukaan. Inilah yang dapat melemahkan kehidupan spiritual umat manusia. Kalau dibiarkan, dapat menjadikan kita semakin sulit mendengarkan bisikan hati dan lebih mempercayai atau mengandalkan kemampuan otak serta produk-produk pikiran atau akal semata. Inilah yang akan melahirkan ketidak seimbangan antara kemampuan nalar dengan hati nurani, sehingga melahirkan berbagai masalah dalam kehidupan.

Jadikanlah hati nurani kita sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupan. Berusahalah menjaga kejernihan hati, agar rahmat dan berkah dari ALLAH senantiasa mengalir dan memberikan yang terindah untuk hati, perasaan dan seluruh diri kita.

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/

Sabtu, 19 November 2011

Munajat hati



Malam ini  hujan termangu dalam ketidak pastian tingkahku
Bertanya apa yang akan aku perbuat tuk artikan dunia yang palsu
Terdekap di balik dinginnya suhu hati
Yang menghujam segala penjuru sel dalam diri

Terhenti sejenak fikirku
Mencoba melangkah perlahan menjauh dari semua tentang hal semu
Kian bercerita pada bait tak bernyawa
Tumpahi segala yang ada dalam dada

Tak berani bertanya pada mereka
Tak ingini mereka mengerti sepercik akan pedihnya rasa


Aku yang kian terlena pada sujud panjangku
Seakan lupai segala yang menusuk jantungku
Aku yang kian terhanyut pada lafadz ayat ini
Meleburkan air mata yang tak terkendali

Bermunjat selalu dalam tiap kegundahan
Yakini indah kan menjelang hati yang kian terlemahkan
Aku hanya ingini kedamaian
Dalam tiap denyut nadi yang kan teralirkan

Hujan di bulan Juni




Dalam dekap hangatmu,,
kau rangkul aku bersama kekayaan batinmu

Mengalaun cerita bersama dua pohon mungil
Tertawa dalam kasih yang tak menentu akan akhir dari baitnya
Ingatkah kau , ini bulan juni

Dan gerimis pun jatuh dari pipi merahku
Tiba akhirnya saat kepergianku

58557_148465478520895_100000723308790_281966_6160114_a.jpg.jpegDalam bahasa kalbu kau harap aku tuk kembali
Dalam kerinduan kau ikhlaskanku tuk pergi
Tanpa kau tau akan akhir cerita, , ,
 kau melepasku


Kau biarkan aku tuk nikmati bahagia di balik telaga air mata mu
Hingga aku sadar hanya dirimu yang selalu bertakhta di dalam benakku

Diruang ini ,,
Kala hujan di bulan juni
Aku pergi tinggalkan bagian hati
Bukan , bukan untuk pergi
Bukan ,, bukan untuk berlari
Namun untuk kembali
Kembali temuimu ,,
Kala kau siap tuk tempatkan aku pada kehalaln hatimu


Rabu, 26 Oktober 2011

TIPS agar SABAR menerima KENYATAAN

Sahabat ku ….
Pernahkah mengalami MUSIBAH atau COBAAN yang sangat menSAKITkan?
Mungkin suami/istrei/anak Anda sakit yang tidak bisa disembuhkan atau bahkan meninggal, atau Anda di-PHK (kerja atau cinta), bisnis bangkrut, suami/isteri selingkuh, bercerai, suami tidak mau memberi nafkah, isteri yang tidak taat, sauadara, teman atau tetangga tidak mau menyapa, orang tua, suami, teman yang zhalim, dsb.
Apakah Anda ingin SABAR dan RIDLO menerima setiap keNYATAan,
serta tetap bisa TERSENYUM dan berbuat BAIK kepada mereka,
dan tetap berSYUKUR kepada Allah atas keNYATAan tersebut ?

Bila Anda bisa melakukan seperti itu...
berarti Anda telah melakukan hal yang menTAKJUBkan.
Karena Rasulullah bersabda dari Suhaib r.a.,

“Sungguh menTAKJUBkan perkaranya orang yang berIMAN, karena SEGALA URUSANnya adalah BAIK baginya. Dan hal yang demikian itu TIDAK AKAN terdapat KECUALI HANYA pada orang MUKMIN; yaitu jika ia mendapatkan keBAHAGIAan, ia berSYUKUR, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang TERBAIK untuknya. Dan jika ia tertimpa MUSIBAH, ia berSABAR, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal TERBAIK bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Sahabatku …...
Dari hadits di atas ternyata TIPS-nya satu, yaitu menjadi manusia berIMAN
Tetapi beriman yang seperti apa sahabat?
Yaitu menjadi orang yang berIMAN dengan 6 RUKUN IMAN (berIMAN kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitabNya, Rasul-rasul-Nya, Taqdir-Nya dan Hari Akhir) dan berIMAN dengan hal-hal berikut :

• 1. BerIMAN bahwa hidup di DUNIA adalah SEMENTARA, bukan sebenarnya keHIDUPan dan AKHIRAT itulah keHIDUPan yang sebenarnya dan KEKAL.
Sehingga kita akan berSABAR untuk menjalani keHIDUPan yang SEMENTARA dan menanti keHIDUPan yang KEKAL ABADI.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan DUNIA itu hanyalah perMAINan dan suatu yang meLALAIkan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan DUNIA ini tidak lain hanyalah keSENANGan yang MENIPU ?” (QS Al-Hadiid: 20)

“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) SEHARI atau ½ HARI, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan SEBENTAR saja, kalau kamu mengetahui dengan sesungguhnya.' Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menCIPTAkan kamu secara MAIN-MAIN (saja), dan bahwa kamu tidak akan diKEMBALIkan kepada Kami?” (QS Al-Mu'minuun: 112-115)

• 2. BerIMAN bahwa hidup di DUNIA adalah TEMPAT UJIAN (dengan keBURUKan dan keBAIKan ) dan akan diMINTA perTANGGUNGJAWABannya (kewajiban) masing-masing.
Sehingga kita akan SIAP hidup susah (yang tidak sesuai dengan keinginan ) dengan penuh pengorbanan, kita akan IKHLAS (karena Allah bukan karena orang yang kita BENCI) tetap bisa TERSENYUM dan berbuat BAIK kepada orang yang menZHALIMi kita. Kita akan bisa mempunyai kePRIBADIan seperti para Nabi dan Rasul.

”Dialah yang menJADIkan MATI dan HIDUP, supaya Dia mengUJI kamu, siapa di antara kamu yang LEBIH BAIK amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al Mulk : 2)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengUJI kamu dengan keBURUKan dan keBAIKan sebagai COBAAN (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (Qs. al-Anbiya': 35).

"Tidak ada sesuatu yang dapat memperberat timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari Kiamat selain kebaikan akhlaknya". (HR. Tirmidzi)

”Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. ” (QS Al Qalam : 4)

• 3. BerIMAN bahwa semua yang terjadi telah TERTULIS dalam KITAB di LAUH MAHFUZH.
”Tiada suatu BENCANA pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah TERTULIS dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) SEBELUM Kami menCIPTAkannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah MUDAH bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu JANGAN berDUKA cita terhadap apa yang LUPUT dari kamu, dan supaya kamu JANGAN TERLALU GEMBIRA terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah TIDAK MENYUKAI setiap orang yang SOMBONG lagi memBANGGAkan diri,” (QS Al-Hadiid: 22-23)

• 4. BerIMAN bahwa UJIAN adalah untuk mengetahui keBENARan IMAN kita.
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka diBIARkan (saja) mengatakan: "Kami telah berIMAN", sedang mereka tidak diUJI lagi? Dan sesungguhnya Kami telah mengUJI orang-orang yang SEBELUM mereka, maka sesungguhnya Allah mengeTAHUi orang-orang yang BENAR dan sesungguhnya Dia mengeTAHUi orang-orang yang DUSTA.” (QS Al ’Ankabut : 2-3)

• 5. BerIMAN bahwa disamping MUSIBAH COBAAN yang ada, jauh lebih BANYAK NIKMAT yang Allah berikan, dan kita WAJIB berSYUKUR dan berTAKWA.
”Dan Dia telah memberikan kepadamu (kePERLUanmu) dari SEGALA apa yang kamu MOHONkan kepadanya. Dan jika kamu mengHITUNG NI’MAT Allah, TIDAKlah dapat kamu mengHITUNGnya. Sesungguhnya MANUSIA itu, sangat ZHALIM dan sangat mengINGKARi (ni`mat Allah).” (QS Ibrahim : 34)

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu berSYUKUR, pasti Kami akan menTAMBAH (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengINGKARi (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya ADZAB-Ku sangat PEDIH". (QS Ibrahim : 7)

Katakanlah: "Siapakah yang memberi RIZKI kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) penDENGARan dan pengLIHATan, dan siapakah yang mengKELUARkan yang HIDUP dari yang MATI dan mengKELUARkan yang MATI dari yang HIDUP dan siapakah yang mengATUR segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: "MENGAPA kamu tidak berTAKWA (kepada-Nya)?" (QS Yunus : 31)

• 6. BerIMAN bahwa semua keBAIKan "yang menimpa" kita berasal dari "sisi Allah" dan keBURUKan "yang menimpa" kita adalah disebabkan diri kita sendiri (dari nafs kita sendiri).
”Apa saja NI’MAT yang kamu peroleh adalah DARIi Allah, dan apa saja BENCANA yang menimpamu, maka DARI (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS An Nisa : 79)

” Boleh jadi kamu memBENCI sesuatu, padahal ia AMAT BAIK bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menSUKAi sesuatu, padahal ia AMAT BURUK bagimu; Allah MENGETAHUI, sedang kamu TIDAK MENGETAHUI. " (QS. Al Baqarah: 216)

• 7. BerIMAN bahwa untuk masuk SURGA harus siap menerima UJIAN, dan BESARnya PAHALA tergantung BESARnya UJIAN.
”Apakah KAMU mengKIRA bahwa kamu akan MASUK SURGA ? Padahal belum datang kepadamu COBAAN sebagaimana halnya orang-orang terDAHULU sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh MALAPETAKA dan keSENGSARAan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya perTOLONGan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya perTOLONGan Allah itu AMAT DEKAT.” (QS Al Baqarah :214)

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang PALING BERAT UJIAN dan COBAANnya?” Nabi Saw menjawab, “Para NABI kemudian yang MENIRU (menyerupai) mereka dan yang MENIRU (menyerupai) mereka. Seseorang diUJI menurut KADAR AGAMAnya. Kalau AGAMAnya TIPIS (lemah) dia diUJI sesuai dengan itu (RINGAN) dan bila IMANnya KOKOH dia diUJI sesuai itu (KERAS). Seorang diUJI terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi BERSIH dari DOSA-DOSA. (HR. Bukhari)

”Seorang hamba memiliki suatu DERAJAT di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan AMAL-AMAL keBAIKannya maka Allah mengUJI dan menCOBAnya agar dia menCAPAI derajat itu.” (HR. Ath-Thabrani)
”Apabila Aku mengUJI hamba-Ku dengan memBUTAkan keDUA MATAnya dan dia berSABAR maka Aku GANTI kedua matanya dengan SURGA. (HR. Ahmad)

”Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian.” (HR. Abu Ya’la)

~ TIPS agar SABAR menerima KENYATAAN (2) ~

8. BerIMAN bahwa UJIAN adalah bentuk KASIH SAYANG Allah kepada Hambanya, karena SURGA harus diperoleh dengan JIHAD (keSUNGGUHan) dan keSABARan.

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan keBAIKan maka ditimpakan UJIAN padanya.” (HR. Bukhari)

“ Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menCINTAi suatu kaum Allah mengUJI mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

”Apakah kamu mengKIRA bahwa kamu akan MASUK SURGA? padahal belum NYATA bagi Allah orang-orang yang berJIHAD di antaramu, dan belum NYATA orang-orang yang SABAR.” (QS Ali ’Imran : 142)

9. BerIMAN bahwa UJIAN dan COBAAN yang diterima akan mengHAPUS DOSA-DOSA.
“Tiada seorang mukmin ditimpa RASA SAKIT, keLELAHan (kepayahan), diserang PENYAKIT atau keSEDIHhan (keSUSAHan) sampai pun DURI yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah mengHAPUS DOSA-DOSAnya.” (HR. Bukhari)
“Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya.” (HR. Ath-Thabrani)

10. BerIMAN bahwa UJIAN dan COBAAN adalah untuk menDEKATkan dirinya kepada Allah.
”Apabila Allah menCINTAi hamba maka dia diUJI agar Allah menDENGAR perMOHONannya (kerendahan dirinya).” (HR. Al-Baihaqi)

11. BerIMAN bahwa Allah mengUJI seorang hamba sesuai dengan keMAMPUannya.
”Allah tidak memBEBANi seseorang melainkan SESUAI dengan keSANGGUPannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. ” (QS Al Baqarah : 286)
”Tidak semestinya seorang muslim mengHINA dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana mengHIHA dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “MeLIBATkan diri dalam UJIAN dan COBAAN yang dia TAK TAHAN menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
”Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah.” (HR. Bukhari)

12. BerIMAN bahwa Allah mengUJI manusia SEPERTI mengUJI keMURNIan EMAS.
”Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah).” (HR. Ath-Thabrani)

13. BerIMAN bahwa berSABAR, berSYUKUR, meMAAFkan, dan berISTIGHFAR adalah HIDAYAH dari Allah.
”Barangsiapa diUJI lalu berSABAR, diBERI lalu berSYUKUR, diZHALIMi lalu meMAAFkan dan menZHALIMi lalu berISTIGHFAR maka bagi mereka keSELAMATan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh HIDAYAH.” (HR. Al-Baihaqi)

14. BerIMAN bahwa keBERKAHan Allah adalah bila kita RIDLO dengan semua NI’MAT yang Allah berikan baik SEDIKIT atau BANYAK.
”Sesungguhnya Allah Azza Wajalla mengUJI hambanya dalam RIZKI yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia RIDLO dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memBERKAHinya dan meLUASkan pemberianNya. Kalau dia TIDAK RIDLO dengan pemberianNya maka Allah TIDAK AKAN memberinya BERKAH.” (HR. Ahmad)